Sebermula

Sebermula/se·ber·mu·la/
kl adv mula-mula; pada mulanya

Jalinan antarmanusia sejatinya tidak bermula di dunia. Ia sudah dimulai jauh sebelum kita lahir, ketika Alloh SWT. menyingkap tabir di Lembah Nu’man dan memperlihatkan wujud-Nya kepada seluruh ruh. Saat itulah ruh-ruh bersaksi atas keesaan-Nya, saling mengenal, dan membentuk ikatan yang kelak berlanjut hingga kehidupan dunia.

Alloh SWT. berfirman:

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنۢ بَنِىٓ ءَادَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا۟ بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَآ ۛ أَن تَقُولُوا۟ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَٰذَا غَٰفِلِينَ

“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Alloh mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): ‘Bukankah Aku ini Tuhanmu?’ Mereka menjawab: ‘Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.’ (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: ‘Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)’.” (QS. Al-A‘raf: 172)

Dalam Tafsir al-Jalalain dijelaskan bahwa ayat “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka” merupakan badal isytimāl dari lafal sebelumnya dengan pengulangan huruf jar, yaitu yang dimaksud adalah anak cucu mereka. Maksudnya, Alloh mengeluarkan sebagian manusia dari tulang sulbi sebagian lainnya yang berasal dari sulbi Nabi Adam secara turun-temurun, sebagaimana sekarang manusia berkembang biak, seperti biji jagung di daerah Nu‘man pada hari Arafah atau musim jagung.

Alloh menetapkan kepada mereka bukti-bukti yang menunjukkan ketuhanan-Nya serta memberikan mereka akal. Dan Alloh mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka seraya berfirman, “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul, Engkau adalah Tuhan kami, kami menjadi saksi.”

Kesaksian ini diambil agar mereka tidak mengatakan di hari kiamat, “Sesungguhnya kami terhadap hal-hal ini, yakni keesaan Tuhan, adalah orang-orang yang lalai; kami tidak mengetahuinya.”

Dari peristiwa inilah dipahami bahwa ruh-ruh manusia sudah memiliki keterikatan dan perbedaan sejak awal penciptaannya. Rasulullah ﷺ bersabda:

الْأَرْوَاحُ جُنُودٌ مُجَنَّدَةٌ، فَمَا تَعَارَفَ مِنْهَا ائْتَلَفَ، وَمَا تَنَاكَرَ مِنْهَا اخْتَلَفَ

“Ruh-ruh manusia itu seperti pasukan yang berkelompok-kelompok. Yang saling mengenal akan menjadi akrab, dan yang saling mengingkari akan saling berselisih.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini mengingatkan kita bahwa manusia memang tidak diciptakan sama. Ada hati yang mudah menyatu, ada yang terasa berat untuk mendekat. Para ulama menjelaskan bahwa hal ini bukan kebetulan, melainkan karena Alloh menanamkan kesesuaian dan perbedaan pada ruh manusia sejak awal. Yang serasi akan saling tertarik, yang tidak serasi akan cenderung menjaga jarak — tanpa perlu saling menyalahkan.

Dalam pembinaan hati dan akhlak, hadits ini mengajarkan bahwa kedekatan sejati bukan hanya soal kebiasaan, kepentingan, atau kesamaan lahir, tetapi soal kesesuaian batin. Orang yang mencintai kebaikan akan merasa tenang bersama orang-orang yang juga mencintai kebaikan. Orang yang menjaga ibadah akan merasa hidup di tengah suasana yang mengingatkan kepada Alloh. Sebaliknya, jika hati belum sejalan, kebersamaan bisa terasa hampa, meski lahirnya tampak dekat. (Sharḥ Ṣaḥīḥ Muslim – Imam an-Nawawi; ‘Umdat al-Qārī – Badaruddin al-‘Ainī)

Al-‘Ainī menjelaskan bahwa junūd mujannadah berarti kelompok-kelompok ruh yang berbeda-beda jenisnya. Ada yang condong kepada ketaatan, ada yang masih berat oleh kelalaian, dan ada pula yang sedang berjuang memperbaiki diri. Karena itu, Islam mengajarkan kita untuk memilih lingkungan yang membantu kita menjadi lebih baik — bukan hanya baik secara lahir, tetapi juga menenangkan batin dan menguatkan iman. (‘Umdat al-Qārī Sharḥ Ṣaḥīḥ al-Bukhārī)

Dari sinilah pentingnya ṣuḥbah, yaitu kebersamaan yang membawa kebaikan. Nabi ﷺ bersabda, “Seseorang itu mengikuti agama temannya, maka perhatikanlah siapa yang engkau jadikan teman.” (HR. Abu Dawud no. 4833; Tirmidzi no. 2378). Kebersamaan yang baik bukan hanya soal sering bertemu, tetapi saling mengingatkan, saling menguatkan, dan saling mendoakan dalam kebaikan. Sebab ruh yang serasi akan saling meneguhkan dalam perjalanan menuju Alloh, sementara yang tidak sejalan akan berjalan di jalurnya masing-masing — tanpa perlu saling menyakiti.

Wallohu a’lam bishawab

Sebermula

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kembali ke Atas